Rabu, 20 Mei 2009

Koalisi yang rapuh...

Dengan selesainya pemilu legislatif, maka terlihat seberapa besar dukungan rakyat pada suatu partai politik yang mengikutinya. Pemilu yang sangat melelahkan dan menghabiskan banyak biaya. Dengan hasil partai democrat yang menjadi pemenangnya.kemenangan yang sudah dapat dilihat, dan dapat ditebak, pada saat kita melihat ketua KPU menemani SBY dalam pencontrengan dikediaman SBY di cikeas.

Dengan kemenangan 20% partai Demokrat sudah bs mencalonkan presiden tanpa harus didukung dari partai manapun. Akan tetapi partai ini tetap akan berkoalisi untuk memantapkan calon yang akan diusungnya. Dan bagi sembilan parpol yang berhasil memiliki kursi di DPR RI, political expediency itu terletak pada posisi politik mereka, tidak hanya untuk dapat mengajukan capres-cawapres, tetapi juga untuk kemudian dapat memenangi pilpres dan membentuk kabinet nantinya. Adapun bagi parpol-parpol yang gagal mendapatkan kursi di DPR RI karena tidak mendapatkan suara sesuai ambang 2,5% pada tingkat nasional, bergabung dalam koalisi merupakan usaha untuk mendapatkan "payung politik" dominan agar bisa survive dalam masa pascapilpres nanti.
Disinilah menariknya, peta politik yang berubah-ubah,setiap detiknya begitu berarti.

Tetapi setelah diumumkannya para peserta capres dan cawapres, peta ini sedikit terjawab. Berbagai parpol sudah mulai menunjukan arahnya. Ada yang setia mendukung satu parpol dan ada juga yang piker-pikir dalam mendukung satu partai.
Dengan perolehan hasil yang terbesar di pemilu legislatif tentu saja partai democrat mempunyai banyak pendukung. Beberapa partai yang merapat menjadi koalisi yang kelihatannya solid. Akan tetapi ketika sang calon presiden yang sekarang menjabat sebagai presiden mengumumkan siapa pendapingnya nanti terjadi kehebohan, apa yang terjadi?. Hal ini terjadi ketika pada saat penunjukan sang calon wakil presiden partai-partai koalisi tidak diajak bergabung. Salah satunya adalah partai PKS, partai yang perolehannya terbesar dalam koalisi partai Demokrat. Partai ini marah dan sempat mengancam akan mundur dari koalisi karna tidak diikutsertakan dalam pemilihan cawapres. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?,para peserta koalisi yang lainnya pun sempat mengancam akan mundur dari koalisi.

Akan tetapi setelah beberapa lama akhirnya para partai koalisi ini pun dapat menerima keputusan dari partai Demokrat. Entah lobi-lobi apa yang telah dilakukan, tetapi yang pasti semua ini terlihat jelas bahwa semua ini adalah tentang penjatahan kekuasaan.
Tetapi kenapa koalisi yang dibentuk ini terlihat rapuh? Adanya pembagian jatah yang kurang merata dan tidak sesuai pada porsinya adalah jawabannya. Dukungan yang setengah-setengah juga ikut mempengaruhi hubungan koalisi ini.ketidakpercayaan sesama partai mulai terlihat, karna terlihat semuanya masih menunggu. Dan tidak tertutup kemungkinan koalisi ini pecah, karna semua itu masih bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Jika dilihat lebih dalam, dari awalnya koalisi ini memang rapuh.dan terlihat koalisi ini berjalan setengah-setengah. Dengan latar belakang koalisi yang berbeda-beda dalam hal idealisme, ini akan menambah rapuh. Dalam hal ini para partai koalisi akan saling melirik dan saling curiga, berebut dan mencari partai mana yang kira-kira akan menguntungkan partainya. Semua hal ini akan menambah banyak daftar rapuhnya sebuah koalisi. Karna seperti kita ketahui bersama didalam partai tidak ada teman yang abadi dan tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi.

0 komentar:

Posting Komentar

. © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute